RSS

Ketika Doa Para Penganut Konghucu, Islam, Hindu dan Budha Berpadu di Situs Gunung Kawi, Kab. Malang, Jawa Timur

04 Sep

Ada sebuah situs kuno unik yang terletak di lereng selatan Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, situs ini telah ada sejak sekitar 181 tahun yang lalu. Keunikannya, situs ini mewakili corak kemajemukan agama di Indonesia. Biasa terkenal sebagai Makam Gunung Kawi, sesuai namanya memang situs ini berupa kompleks makam leluhur pendiri desa Wonosari yang terletak di Gunung Kawi tersebut, awalnya sebuah makam leluhur desa yang kemudian menjelma menjadi kompleks ziarah dan peribadatan berbagai agama di Indonesia baik Islam, Konghucu, Budha, Hindu, kepercayaan (Kejawen) maupun Kristen dan Katolik. Situs ini begitu terkenal dan sangat ramai sebagai lokasi banyak para penganut agama memanjatkan doa untuk keinginan mereka utamanya kelancaran rezeki dan jodoh. Beberapa waktu yang lalu, saya sempat mengunjunginya untuk menjawab rasa penasaran saya, mengapa situs pemakaman itu begitu terkenal terutama di kalangan para pebisnis keturunan tionghoa di seluruh penjuru Indonesia. Berikut ulasannya.

Makam Gunung Kawi sebenarnya adalah sebuah kompleks pemakaman leluhur pendiri desa Wonosari yang bernama Kyai Zakaria (Panembahan Eyang Djoego) dan Raden Mas Iman Sudjono – siapa mereka?? akan saya bahas selanjutnya. Terletak di lereng sebelah selatan Gunung Kawi (Kabupaten Malang, Jawa Timur) di ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut, untuk menujunya saya menempuh perjalanan berkendara motor dari arah Kota Malang, Jawa Timur. Untuk mencapainya terlebih dahulu kita harus mencapai Kepanjen — Kota Kabupaten Malang, untuk selanjutnya mengikuti jalan desa yang berkelok-kelok naik turun menuju ke desa Wonosari di lereng selatan gunung kawi, tepatnya lokasi situs ini berada. Jalan desa yang menuju ke lokasi ini sudah tergolong layak. Banyak penunjuk jalan menuju ke situs tersebut juga tersebar di sepanjang jalan bahkan sejak dari Kota Malang. Sebab, beberapa tahun yang lalu, situs ini telah dijadikan salah satu obyek wisata oleh pemerintah kabupaten Malang dengan nama Wisata Religi Gunung Kawi.

Gerbang Masuk Kompleks (Pemakaman) Pasarean Gunung Kawi

Gerbang Masuk Kompleks (Pemakaman) Pasarean Gunung Kawi

I. Keunikan Situs Pasarean Gunung Kawi

Kepercayaan adalah urusan hati masing-masing manusia. Itulah salah satu ungkapan yang tergambar dari lokasi ini. Seolah sebagai magnet, dua buah makam leluhur (Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono) yang menjadi pusat utama situs ini selama bertahun-tahun telah menarik ratusan bahkan mungkin ribuan masyarakat yang terdiri dari berbagai penganut agama dan keyakinan untuk turut memanjatkan doa ditempat tersebut. Rata-rata mereka datang ketempat ini untuk memanjatkan doa demi kelancaran usaha, nasib atau jodoh. Lokasi ini selalu dibuka selama 24 jam non-stop dan tidak pernah sepi meskipun malam telah larut. Tak ubahnya sebuah metropolis mini di sebuah pelosok lereng gunung, Lokasi ini menjadi tujuan bagi para pencari berkah spiritual dari seluruh pelosok negeri. Pada saat saya berkunjung kesana, banyak saya dapati plat kendaraan luar kota yang diparkir dipelataran parkir sekitar 500 meter dari lokasi. Rata-rata diantaranya berasal dari Jakarta, Surabaya, Malang, Denpasar, Bandung dan bahkan pula saya dapati plat kendaraan dari Kepulauan Riau. Disekitar lokasi, tepatnya disepanjang jalan setapak berpaving yang menuju ke gedung makam, banyak terdapat warung, hotel, toko cinderamata, kios peramal, asongan bakso dan jagung bakar berjajar dari gerbang masuk luar sampai ke gerbang masuk pelataran pesarean. Berikutnya di areal pelataran 1, dekat gedung pesarean, terdapat sebuah gedung penyimpanan pusaka, sebuah kuil tionghoa, sebuah masjid dan deretan pedagang bunga mawar dan dupa. Ada sebuah pelataran luas tempat para pengunjung beristirahat, sekedar menggelar tikar di depan sebuah gedung peramal cina Ciam Sie. Ada juga sebuah gedung tempat pagelaran wayang jawa.

Patung Dewi Kwan Im di halaman Kwan Im Gunung Kawi

Patung Dewi Kwan Im di halaman Kwan Im Gunung Kawi

Disini, tidak ada batasan antara muslim, konghucu, hindu, budha, katolik atau pun kristen. Seolah semuanya bercampur padu menjadi satu. Bagi pengunjung yang tidak terbiasa dengan hal ini, mungkin akan sedikit merasa risih. Namun, jika anda sudah terbiasa hidup di masyarakat beragama majemuk, maka anda akan merasakan kemajemukan beragama itu amat-sangat-kental disini. Anda bisa membayangkannya sebagai berikut, diantara kerumunan pengunjung, disebelah kiri anda berdiri pengunjung yang tengah asyik mempersiapkan sesajian bunga tujuh rupa dan dupa. Sedangkan disebelah kanan anda, ada seorang konghucu yang tengah sibuk melakukan ritual ciam sie. Didepan anda, mungkin anda bisa menyaksikan puluhan orang tengah bertasbih duduk bersila. Ada juga dibelakang antrian anda rombongan keluarga katolik sedang menunggu untuk ikut memanjatkan doa dihadapan makam. Sedangkan anda sendiri mungkin seorang penganut islam. Ya begitulah kira-kira gambaran ditempat itu. Segala pemeluk agama bercampur baur untuk memanjatkan doa dan harapan di depan makam leluhur tersebut.

II. Sejarah

Sejarah situs ini tidak lepas dari sejarah desa Wonosari itu sendiri serta kisah perjuangan para leluhur dalam melawan penjajahan Belanda di wilayah pulau Jawa.

II.a. Kisah Pendirian Desa Wonosari

Bermula pada era sekitar tahun 1830an, setelah kekalahan pasukan Pangeran Diponegoro dari Mataram Islam oleh Belanda, banyak pengikut dan pendukung Pangeran Diponegoro yang melarikan diri menghindar dari kejaran Belanda ke arah wilayah timur pulau jawa, tepatnya yang saat ini menjadi propinsi Jawa Timur. Para pelarian itu diantaranya adalah penasehar spiritual Pangeran Diponegoro — Eyang Djoego atau yang juga disebut dengan Kyai Zakaria. Dalam pelarian sebelumnya, beliau pergi keberbagai daerah diantaranya Pati, Bagelan, Tuban, dan kemudian ia menuju ke arah tenggara wilayah Malang (Kepanjen). Pengembaraannya kemudian berakhir di wilayah Kesamben, Blitar tepatnya di dusun Djoego, sekitar tahun 1840 an, ia kemudian menetap disana serta mendirikan Padepokan Djoego.

Dalam era satu dekade sejak 1840-1850 an, di dusun itu banyak berdatangan pula para pelarian bekas pasukan Pangeran Diponegoro yang kalah perang. Diantaranya adalah putra angkat Kyai Zakaria / Eyang Djoego yang bernama R.M. Iman Soedjono, beliau adalah bekas dari salah satu Senopati Pangeran Diponegoro yang kemudian ikut membantu dalam pengembangan Padepokan Djoego di dusun tersebut. Dalam era dekade tersebut, datang pula pelarian lain, yaitu murid R.M. Iman Soedjono yang bernama Ki Moeridun yang berasal dari Warungasem, Pekalongan.

Padepokan Djoego di Blitar itu, digunakan sebagai salah satu kantong basis penghimpunan kekuatan pejuang kemerdekaan di era penjajahan Belanda setelah kalahnya Pangeran Diponegoro. Tak lama kemudian dalam dekade 1850-1860 an, Kyai Zakaria / Eyang Djoego kemudian memerintahkan R.M. Iman Soedjono dan Ki Moeridun untuk pergi ke lereng selatan gunung Kawi, tujuannya untuk membuka hutan diwilayah tersebut yang kemudian akan dijadikan sebuah desa yang ramai sekaligus sebagai desa penampungan para pengungsi akibat kalahnya Pangeran Diponegoro atas Belanda, yang sekaligus menandai keruntuhan Mataram Islam di Pulau Jawa.

Pembukaan hutan di wilayah lereng selatan Gunung Kawi tersebut kemudian dilaksanakan oleh kedua orang tersebut; R.M. Iman Soedjono dan Ki Moeridun, dibantu pula oleh 40 orang pengikut yang beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Mbah Suro Wates
2. Mbah Kaji Dulsalam (Birowo)
3. Mbah Saiupan (Nyawangan)
4. Mbah Kaji Kasan Anwar (Mendit-Malang)
5. Mbah Suryo Ngalam Tambak Segoro
6. Mbah Tugu Drono
7. Ki Kromorejo
8. Ki Kromosari
9. Ki Haji Mustofa
10. Ki Haji Mustoha
11. Mbah Dawud
12. Mbah Belo
13. Mbah Wonosari
14. Den Suryo
15. Mbah Tasiman
16. Mbah Tundonegoro
17. Mbah Bantinegoro
18. Mbah Sainem
19. Mbah Sipat / Tjan Thian (kebangsaan Cina)
20. Mbah Cakar Buwono
21. Mbah Kijan / Tan Giok Tjwa (asal Ciang Ciu Hay Teng- RRC)

Rombongan dengan dipimpin oleh Mbah Wonosari, dengan perbekalan dan peralatan yang cukup kemudian berangkat dan membuka wilayah yang saat ini dikenal dengan desa Wonosari.

II.b. Sejarah Nama-nama Tempat di Desa Wonosari

Setelah segala kebutuhan pembekalan lengkap maka berangkatlah rombongan itu untuk babat hutan lereng sebelah selatan Gunung Kawi dengan pemimpin Mbah Wonosari. Setelah sampai dilereng selatan Gunung Kawi, rombongan beristirahat kemudian melanjutkan babat hutan dan bertemu dengan batu yang banyak dikerumuni semut sampai pertumpang-tumpang kemudian ditempat itu dinamakan Tumpang Rejo, setelah itu perjalanan diteruskan kearah utara disebuah jalan menanjak (jurang) dekat dengan pohon Lo (sebangsa pohon Gondang) disitu berhenti dan membuat Pawon (perapian) lama-kelamaan menjadi dusun yang bernama Lopawon, kemudian melanjutkan babat hutan menuju arah utara sampai kesebuah hutan bertemu sebuah Gendok (barang pecah belah untuk merebus jamu) yang terbuat dari tembaga, lama-kelamaan dinamakan dusun Gendogo. Setelah itu melanjutkan perjalanan kearah barat dan beristirahat dengan memakan bekal bersama-sama kemudian melihat pohon Bulu (sebangsa pohon apak/beringin) tumbuh berjajar dengan pohon nangka kemudian hutan itu disebut dengan Buluangko dan sekarang disebut dengan hutan Blongko, selesai makan bekal perjalanan dilanjutkan kearah barat sampai disebuah Gumuk (bukit kecil) yang puncaknya datar lalu dibabat untuk tempat darung (tempat untuk beristirahat dan menginap selama melakukan pekerjaan babat hutan, tempat istirahat sementara), kemudian tempat itu ditanami dua buah pohon kelapa, dan anehnya pohon kelapa yang satu tumbuh bercabang dua dan yang satunya tumbuh doyong /tidak tegak keatas sehingga tempat itu dinamakan Klopopang (pohon kelapa yang bercabang dua). Kemudian setelah mendapatkan tempat istirahat (darung) pembabatan hutan diteruskan kearah selatan sampai didaerah tugu (sekarang merupakan tempat untuk menyadran yang dikenal dengan nama Mbah Tugu Drono) dan diteruskan ke timur sampai berbatasan dengan hutan Bulongko, kemudian naik ke utara sampai sungai yang sekarang ini dinamakan Kali Gedong, lalu ke barat sampai dekat dengan sumbersari, selesai semuanya kemudian membuat rumah untuk menetap juga sebagai padepokan, di rumah itulah R.M. Iman Soedjono dengan Ki Moeridun beserta seluruh anggota rombongan berunding untuk memberi nama tanah babatan itu. Karena yang memimpin pembabatan hutan itu bernama Ki Wonosari kemudian disepakati, nama daerah babatan itu bernama dusun Wonosari. 

II.c. Berdirinya Situs Pasarean Gunung Kawi

Karena pembabatan hutan dilereng selatan Gunung Kawi dianggap selesai, maka diutuslah salah satu pendereknya / pengikut untuk pulang kedusun Djoego di Kesamben, Blitar, untuk melapor kepada Eyang Djoego bahwa pembabatan hutan di lereng selatan Gunung Kawi telah selesai dilakukan, setelah mendengar laporan dari utusan R.M. Iman Soedjono tersebut maka berangkatlah Kanjeng Eyang Djoego ke dusun Wonosari di lereng selatan Gunung Kawi yang baru selesai untuk memberikan petunjuk-petunjuk dan mengatur siapa saja yang harus menetap di dusun Wonosari dan siapa saja yang harus pulang ke dusun Djoego dan juga beliau berpesan bahwa bila beliau wafat agar dimakamkan (kramatkan) disebuah bukit kecil (Gumuk) yang diberi nama Gumuk Gajah Mungkur.

Demikianlah setelah meninggalnya Kyai Zakaria, beliau pun kemudian dimakamkan di gumuk tersebut. pada tahun 1871. Pada tahun 1876, anak angkatnya yang juga sekaligus pendiri desa itu R.M. Iman Soedjono meninggal dan dimakamkan bersebelahan dengan Kyai Zakaria / Eyang Djoego.

Sejarah gumuk makam tersebut tidak pernah sepopuler seperti sekarang, setidaknya sebelum tahun 1931-an. Namun pada periode sebelum tahun tersebut, makam itu sudah mulai ramai dikunjungi para peziarah kubur. Pada 1931 datanglah seorang tionghoa bernama Ta Kie Yam ke desa tersebut, sebagai ungkapan terima kasihnya setelah doanya terkabul ketika berziarah kemakam tersebut, kemudian ia dibantu oleh kawan-kawannya dari Singapura mulai membangun jalan menuju ke bukit makam tersebut, yang juga kemudian dibangun pula beberapa gapura dan taman sari di areal sekitar makam sebagai tanda penghormatan atas almarhum.

Gedung Pasarean (Makam) Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono

Gedung Pasarean (Makam) Eyang Djoego dan R.M. Iman Soedjono

Kepopuleran makam sebagai salah satu tempat berdoa mulai tersebar dikalangan masyarakat. Dan lambat-laun semakin banyak para peziarah yang datang ke makam tersebut untuk memanjatkan doa maupun memenuhi hajat atas terkabulnya doa mereka, hingga saat ini.

(bersambung)

 

3 responses to “Ketika Doa Para Penganut Konghucu, Islam, Hindu dan Budha Berpadu di Situs Gunung Kawi, Kab. Malang, Jawa Timur

  1. barda mandrawata

    Desember 25, 2011 at 11:18 pm

    Setelah sekian tahun saya cari2 sejarah tentang Gunung Kawi, baru ketemu skg. karena waktu saya kesana tahun 1990 saya gak boleh bawa masuk kamera ke area Gunung Kawi. Tetapi yang masih simpang siur adalah soal kedatangan org China, sepengetahuan saya, China itu adalah murid Mbah Wonosari yang pernah disembuhkan oleh Ki Djoegoe dan mengabdikan dirinya sampai wafatnya di Gunung Kawi.

     
  2. Teddy zhang

    Februari 16, 2012 at 5:09 pm

    Saya sangat tertarik dengan kebudayaan indonesia. Sudah lama aku ingin ke daerah malang, khususnya gunung kawi, tetapi tidak kesampain. Akhirnya saya temukan blog ini. Terimakasih… Smoga kehidupan sekarang bisa mencontohi kehidupan para kiyai dan para mbah” intinya leluhur mau pun nenek moyang kita. Karena mrekalah kita baru ada hari ini…

     
  3. mas Anggie

    Maret 23, 2012 at 10:39 pm

    sebenarnya aku sendiri tkut datang kesana konon ktanya tempat untuk mencari pesugihan apa nggak di bilang sirik itu smua

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: